<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=2668443989492979634&amp;blogName=Cerita+Seks+%7C+Cerita+Dewasa+%7C+Cerita+...&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fceritaseks-ceritadewasa.blogspot.com%2Fsearch&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fceritaseks-ceritadewasa.blogspot.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>





Posted @ 2:09 PM| Thursday, May 8, 2008 |  0 comments add to Digg it! add to technorati add to Yahoo MyWeb
Dan seperti kehilangan kontrol akupun membalas menjilati kuping. Randi membalas tidak kalah jilatannya. Napasku terengah engah tanda napsuku mulai naik. Ternyata dia tahu aku telah terangsang dengan tingkahnya.
Tiba-tiba tangan kirinya dia taruh ke pahaku. Tetapi saat aku tidak menunjukkan reaksi, tangan Randi mulai mengelusi pahaku kemudian menaikkan elusannya ke peruntuku kemudian ke dadaku. Aku tepis kuat-kuat. Aku bisikkan agar jangan tidak sopan padaku.

Dia tunjukkan celana dalamnya yang telah terdorong mencuat karena kontolnya yang ngaceng berat sambil telunjuknya menunjuk bibirnya agar aku diam. Kemudian dia perosotkan celananya hingga kontolnya yang cukup gede dan ujung kepalanya yang merah berkilatan itu nampak tegak kaku mencuat dari rimbunan bulunya yang masih halus tipis. Aku kaget banget dengan ulah Randi ini. Yang aku takuntukan kalau-kalau pembantuku mendengar, masuk ke ruang tamu dan melihat apa yang terjadi di ruang tamu ini. Bisa-bisa aku dianggap serong sementara suamiku masih berada di kantor. Aku berontak untuk berdiri dan meninggalkan ruang tamu.
Tetapi Randi lebih sigap dan kuat. Direnggutnya rambutku dengan kasar hingga aku nyaris terjatuh. Kemudian dengan paksa mukaku ditundukkan ke arah selangkangannya. Dia arahkan kontolnya ke mulutku. Dia maksudkan agar aku mengulumnya. Kurang ajar dan kebangetan banget, nih anak. Tahu bahwa ada pembantuku di dapur dia berani mencoba melakukan macam ini padaku.
Tapi aku tetap tidak mau.

Dengan lembut dia menidurkan aku disofa dan dengan lembut pula tanpa kata kata, dia membuka kancing bajuku dan dia menyentuh kedua bukit kembarku, aku mendesis desis.
Dia lepas bukit kembarku dan berdiri sambil menutup celananya kembali yang sempat dikeluarkan penisnya. Dia berkata:
“Bu, kita kekamar ibu, dan suruh pembantu ibu pergi kemana gitu biar kita senang–senang tanpa ada yang memganggu…”
Aku diam terpaku dan masih bimbang apakah aku menerimanya apa menolaknya, apa aku sudah berselingkuh. Aku masih terdiam sementara Randi menunggu jawabanku. Aku masih berpikir apa aku harus menampar muka Randi dan mengusirnya. Tapi jujur kuakui kalau perilaku Randi membuat aku terangsang. Dan akhirnya..

“Bi.. Bibi..”, Aku memanggil pembantuku.
Pembantuku datang dengan lari–lari kecil dan menyahut panggilanku.
“Ada apa bu?”
“Bibi sekarang ke pasar beli buah buat persediaan anak–anak”, perintahku.
Kebetulan buah–buahan yang dikulkas telah habis.
“Tapi bu, saya sedang masak”, bantah pembantuku.
“ya sudah tinggalkan saja, nanti sekalian mampir ke Rumah makan padang beli lauknya saja buat makan siang anak–anak”, perintahku kembali sama pembantuku.
“Baik bu”, jawab pembantuku.
“Oh ya sekalian jemput dwi ya, habis dari beli buah jemput Dwi”, perintahku lagi sama pembantuku. Dwi adalah putraku ke dua kelas satu SMP, biasanya pulang jam dua siang. Anak pertamaku karena kelas tiga jadi ada les tambahan.
“Baik bu”, jawab pembantuku.
Sambil ku beri uang belanja dan kunci motor aku sempat melirik Randi yang tersenyum–senyum padaku. Akupun belum begitu meresponnya.
Pembantu telah pergi dan akhirnya tinggal aku dan Randi, sempat melihat jam menunjukan pukul 12. Dan nanti kurang lebih jam 2.15 siang pembantuku akan kembali bersama anakku, itu artinya aku masih punya waktu 2jam untuk bersama Randi.

Tapi jujur aku masih merasa bingung apa harus aku lakukan atau tidak, karena aku merasa bahagia dengan keluargaku saat ini juga, tetapi tak dapat kupungkiri aku sudah merasa terangsang dengan perilaku Randi.
Tiba–tiba Randi berkata.
“Bu, ayo keruang keluarga sambil nonton tv”, ajak Randi.
Akupun melangkah keruang keluarga dengan Randi, dan setelah sampai diruang keluarga, kami duduk di karpet depan tv yang masih hidup.
Tanpa basa basi, langsung saja dia merangkulku dan merobohkan aku dikarpet posisiku ditelentangkan, aku hanya protes,
“Rann… apa-apaan siih..”, katanya kita mau ngobrol saja kok begini…”
Dan sambil mencari kaitan BH di belakang tubuhku, dia menjawab saja,
“Sebenarnya… aku pengen bu…”
Setelah kaitan BH-ku terlepas, langsung saja BH-ku dibuka dan dijilat payudaraku serta dia menyedot-sedot puting susuku yang putih dan besar dan tanpa sadar aku mencoba memasukkan tangan kananku ke dalam celana Randi mencari cari penis yang sempat diperlihatkan kepadaku, tetapi karena celananya agak sempit sehingga aku kesulitan memasukkan tanganku dan langsung saja aku berkata entah sadar apa tidak:
“Ran, bukain celanamu, aku yoo.., kepingin… pegang punyamu”, pintaku.
Dan tanpa melepas puting susuku yang masih dia sedot, dia mulai melepas celana dan celana dalamnya sekaligus sehingga dia sekarang sudah telanjang bulat dan penisnya yang setengah berdiri itu langsung saja kupegang dan segera saja aku berkomentar,
“Ran, kok masih lembek.. Gak kayak tadi?”
“Coba saja di isap… pasti sebentar saja sudah tegang, mau?”, tanya Randi.
sambil memandangi wajahku, dan akupun mulai menjilatinya, toh aku juga pernah sama suamiku.

Dia melepas isapan mulutnya di payudaraku dan bangun serta duduk di dekat kepalaku sambil sedikit dia memiringkan badanku kearahnya dan dengan tidak sabaran langsung saja batang penisnya yang masih setengah berdiri kupegangi dan kepalanya ku jilat-jilat sebentar dan langsung dimasukkan ke dalam mulutku. Dia memutar badanku setengah tengkurap, aku segera saja memaju-mundurkan kepalaku sehingga penisnya keluar masuk di mulutku.
“Aah.., ooh, Buuu… teruss… ooh… enaaknyaa, Bu.. oohh”, kata Randi sambil membelai rambut di kepalaku dan sesekali dia menjambak dan baru sebentar saja aku menghisap penis Randi, terasa penisnya sudah tegang sekali.

Tiba-tiba saja penisnya dikeluarkan dari muluntuku dan langsung dia berkata.
“Buuu…, isap.., lagii.., doong”, pintanya kepadaku.
Tetapi aku menjawab dengan sedikit meminta.
“Rann… tolong, punya saya juga…”
Ternyata dia langsung mengerti apa yang aku mau dan langsung saja dia merubah posisi dan dia menjatuhkan dirinya tiduran ke dekat kaki ku dan dia menarik celana dalamku turun serta melepas dari badanku.

Dengan perilakunya aku bergerak dan berganti posisi tidur di atas badan Randi sehingga vaginaku tepat berada di mulut Randi, maka tanpa bersusah payah dia sibak bulu-bulu vaginaku yang menutupi bibir vaginaku dan setelah itu dia membuka bibir vaginaku dengan kedua jari tangannya dan dia menjulurkan lidahnya menusuk ke dalam vaginaku yang sudah basah oleh cairan. Ketika ujung lidahnya menyodok kelubang vaginaku, langsung saja ku menekan pantatku ke wajahnya sehingga terasa dia sulit bernafas dan langsung ku kocok-kocok penis Randi dengan jari tanganku.

Ketika lidahnya menjelajahi seluruh bagian vaginaku dan bibir vaginaku tetap dia pegangi, aku lalu menaik-turunkan pantatku dengan cepat dan aku merasa keenakan dijilati. Aku mendesah yang agak keras karena terlalu nikmat.

“ooh… Ran, aahh teruus.. Ran, aduuh… enak.. Ran… Ran… ooh…”, desahku.

Dan sesekali clitorisku yang sedikit menonjol itu dan sudah mulai terasa mengeras, dia hisap-hisap dengan mulutnya sehingga desahan demi desahan keluar dari mulutku, “ooh… itu.., Rannn, enaak, Sayang”, desahku kenikmatan dengan perilaku Randi.
Dan aku melepaskan pegangan dipenisnya Randi dan Aku menjatuhkan diri dari atas tubuhnya dan tidur telentang sambil memanggilnya.
“Rann, sayang, sini, Saya sudah nnggak tahaan… ayoo… sini… Raann”, memintaku sama Randi sang polisi muda.

Dia segera saja bangun dan membalik badannya serta dia menaiki tubuhku dan aku ketika tubuhnya sudah berada di atasku, aku membuka kakiku lebar-lebar dan dia tempatkan kakinya di antara kedua kakiku. Dengan nafas terengah engah dan mencoba memegang penisnya aku berkata,
“Raann.., cepat dong, masukin. Saya sudah tidak tahan.”
“Tunggu sayang, biar Aku saja yang masukin sendiri”, kata Randi sambil memindahkan ke atas, tanganku yang tadi mencoba memegang penisnya tetapi rupanya aku akui sudah tidak sabaran lalu kembali aku berkata.
“Rann, ayoh dong, cepetaan, dimasukiin, punyamu itu!”, aku memintanya kembali.
Dan tiba–tiba Randi memegang penisnya dan menggesek-gesekkan di belahan bibir vaginaku beberapa kali dan kemudian dia mulai menekan ke dalam serta,
“Blees”, terasa dengan mudahnya penisnya masuk ke dalam lubang vaginaku dan aku terkaget bersamaan penis Randi masuk kedalam vaginaku.
“Aduh… Raan”, aku sambil mendekap Randi erat-erat.
“Sakit, sayang?”, tanya Randi.
Dan aku hanya menggelengkan kepalaku sedikit dan aku menciumi disekitar telinga Randi aku pun berbisik,
“Enaak, Rann…”, aku mendesis.

Dia menciumi wajahku dan sesekali dia hisap bibirku sambil dia memulai menggerakkan pantatnya naik turun pelan-pelan, aku mencengkram punggungnya Randi dengan keras. Dan aku berkata sambil menikmati goyangan pantat Randi.
“Ran, coba diamkan dulu pantatmu itu…”, pintaku sama Randi.
Ran pun menuruti saja permintaanku. Aku langsung mempermainkan otot-otot vagina kenikmatanku, dan Randi terasa penisnya seperti di pijat-pijat serta tersedot-sedot dan jepitan serta sedotan vaginaku semakin lama semakin kencang sehingga penisnya terasa begitu nikmat dan akupun menikmatinya. Dan ternyaya Randi terlena keenakan.

“oohh… sshh… Bu… enaknya… ooh… terus Bu, aduuh, enaak!”, Randi merasa menikmati sedotan vaginaku.
Dan Randi sudah tidak dapat tinggal diam saja, langsung pantatnya naik turun sehingga penisnya keluar masuk lubang vaginaku serta terdengar bunyi, “Crreett… crettt…”, secara beraturan sesuai dengan gerakan penisnya keluar masuk vaginaku yang sudah sangat basah dan becek.

“Rannn, cabut dulu punyamu, biar aku lap dulu punyaku sebentar”, kataku sama Randi.
“Biar saja Bu… nikmat begini kok”, sahutnya sambil meneruskan gerakan penisnya naik turun semakin cepat dan aku tidak memperhatikan jawabannya karena merasa kenikmatan yang sangat enak.

“ooh… sshh… aakk, aduuh, Raan, teruskan Rann, ooh..”, sambil mempercepat goyangan pinggulku serta kedua tanganku yang dipunggungnya selalu menekan-nekan disertai sesekali aku menyempitkan lubang vaginaku sehingga terasa penisnya terjepit-jepit dan aku menikmati hal seperti ini.
“ooh.. Bu… sshh.. oohh.. enaak.., Buuu.. aku, aku sudah nggak kuat, mau… keluarr, Bu…”, desahanknya yang sudah tidak kuat lagi menahan keluarnya air maninya.
“Rann, ayoo… Ran aduuh, ooh… Aku juga, ayoo sekaraang, aakkrr.., Sayang”, dan dia melepas air maninya semuanya ke dalam vaginaku sambil dia menekan penisnya kuat-kuat dan aku pun mendekapnya dengan sekuat tenagaku.
Baru sekarang kuraih kenikmatan yang luar biasa. Sungguh aku merasa nikmat, walau aku merasa bersalah terhadap keluargaku.

Dia terkapar di atas badanku dengan nafas ngos-ngosan demikian juga dengan nafasku yang sangat cepat. Setelah nafas kami mulai mereda, lalu dia berkata,
“Bu, aku cabut ya punyaku”, dan sebelum dia menghabiskan perkataannya, aku cengkeram punggungnya dengan kedua tanganku dan aku berkata.
“Jangaan duluu, Rann, Aku masih ingin… punyamu tetap ada di dalam.”
Dia pun menuruti kata–kataku. Setelah agak lama dalam vaginaku, dikeluarkan penisnya dari vaginaku. Kamipun merapikan diri.
Setelah kulihat jam ternyata menunjukkan pukul 13.15,
Randi pun berpamitan akan pulang sambil melumat bibirku. Aku pun membalas ciuman mulutnya.
“Terimakasih bu, aku sangat puas”, kata Randi berbisik dikupingku.
Aku hanya diam tak menjawab, Randi pun langsung keluar rumah dan pergi.
Aku merasa aneh dengan diriku, aku menghianati suamiku dan keluargaku tapi hati kecilku meras senang dengan kejadian ini.

Setelah kejadian ini aku merasa bersalah dengan keluargaku, aku mencoba untuk memperbaiki sikapku. Tapi setiap malam aku merasa kangen dengan Randi. Bahkan saat berhubungan dengan suamiku aku membayangkan dengan Randi yang sangat lihai membuat aku mudah terangsang.

Aku dan Randi pun memanfaatkan hari kamis dimana aku libur kerja dan dia piket malam hari. Sampai saat ini aku dan Randi masih berhubungan, sesekali kami sexs phone, atau sexs sms.
Aku memang ibu yang tak tahu diuntung dan kurang bersyukur dengan kebahagiaanku saat ini.
Beginilah ceritaku, kutulis di situs ini. Dan jujur aku tahu situs ini dari Randi, aku pun menulis kisah ku ini atas permintaan Randi.

(Baca elengkapnya ...)

Posted @ 2:08 PM| Tuesday, May 6, 2008 |  1 comments add to Digg it! add to technorati add to Yahoo MyWeb
Lama Dino tercenung, merasa bersimpati atas kejadian yang dialami oleh Ryani. Dan dengan berdasarkan skrip yang diemailkan oleh Ryani dicobanya mengembangkan cerita agar lebih layak untuk di nikmati pembaca (DS). Silakan menikmati…
Ryani adalah seorang mahasiswi program profesi pada sebuah fakultas psikologi di sebuah universitas di Solo. Saat itu berumur 25 tahun, kulit putih, sopan. Sosoknya amat cantik dan menarik hati pria yang memandang dan tidak heran bila ia telah di pertunangkan dengan seorang pria yang berprofesi sebagai pegawai pemda setempat.

Kejadiannya bermula saat untuk menyelesaikan tugas akhir dari kampus, dan yang menjadi objek penelitiannya adalah tentang perilaku narapidana selama proses asimilasi. Untuk itu Ryani sering mondar mandir masuk kedalam LP dikota itu untuk melakukan penelitian. Iapun mengambil sebuah contoh kasus dari seorang napi yang bernama Marto. Marto adalah napi yang terhukum selama sembilan tahun dalam kasus pembunuhan. Ia telah menjalani masa tahanan selama tujuh tahun dan karena berkelakuan baik maka ia sering mendapat remisi. Umurnya empat puluh sembilan tahun, sosoknya pendek, hitam, perut buncit.

Untuk keperluan penelitiannya Ryani pun sering berada bersama Marto, kadang-kadang karena ada kelonggaran dari LP maka Marto boleh keluar tahanan siang hari dan malamnya kembali masuk untuk asimilasi dengan dunia luar. Ryanipun sering memanfaatkan waktu Pak Marto saat keluar itu untuk kepentingan penelitiannya. Karena sering bersama dan selalu berdua dengan, Martopun akhirnya merasa jatuh hati pada Ryani, Marto hanya memendamnya dalam hati dan…

Suatu hari, untuk mendapatkan bahan bagi penelitiannya, Ryani menyetujui untuk brengkat bersama Marto mengunjungi orangtuanya di desa. Mereka berangkat pagi –pagi sekali menggunakan bis. Bis yang mereka tumpangi melaju dalam kecepatan normal. Membelah pagi hari dengan deru knalpotnya. Bersisian mereka duduk. Tak terpikirkan sedikitpun di benak Ryani kemungkinan-kemungkinan terburuk dari perjalanannya ini. Tekadnya hanya satu, mendapatkan data seakurat mungkin untuk kepentingan penulisan tugas kampusnya.

Mengenakan kaos berbalut jaket tak mengurangi kecantikannya. Rambut berkucirnya tak dapat menyembunyikan kemulusan kulit tengkuknya yang berbulu halus. Juga balutan jeans pada kakinya semakin menunjukkan bentuk tubuhnya yang indah. Menjelang sore sampailah mereka di terminal dan dengan menggunakan angkutan setempat melaju menuju rumah tinggak orangtuanya Marto. Selang 30 menit kemudian merka turun di halaman sebuah rumah dengan halaman yang luas. Rumah kayu yang cukup asri. Marto melangkah masuk diikuti oleh Ryani. Dan seperti biasanya rumah di desa, rumah itupun tak di kunci.

Pandangan Ryani jatuh berkeliling pada ruangan tamu yang di penuhi jendela pada sisi–sisinya. Memandang melalui jendela ke seberang, menikamati suasana yang tenang dengan kehijauan tanaman di kejauhan. Menyaksikan betapa rumah-rumah disini terletak berjauhan dengan halaman yang rata rata luas.

“Uh… panasnya”, batin Ryani seraya melepaskan jaketnya dan menyampirkannya di punggung kursi panjang yang ada di ruangan tersebut. Dengan bertelekan pada kusen jendela sambil memejamkan mata memajukan wajahnya ayunya untuk di tiup angin semilir… damai rasanya.

“Ini mba'…silakan minum hanya air putih…”, Ucapan Marto menyadarkannya dari kedamaian perasaanya.
“Ga usah repot-rept pak Marto…”sahut Ryani. Melangkah menyisiri jendela dan duduk di kursi kayu jati yang terletak di sampingnya.
“Segar sekali…”, ucap Ryani. Menikmati aliran air putih tersebut mengalir membasahi kerongkongannya yang cukup lengket karena sedari tadi belum di aliri air setitikpun.
“Gimana ya mba.?”
“Ada apa… pa?”, tanya Ryani memandang raut wajah bingung lelaki yang masih gagah itu.
“Ngg… Ng, ini kedua orang tuaku lagi ga disini, mereka sedang berkunjung ke rumah paklik ku di desa sebelah.” Ujarnya terbata-bata.
“Tadi aku ketemu sama pak Warjo itu tetangga di sebelah, beliau yang bilang…”, sambungnya lagi.
“Ya sudah ngga pa pa…”, sahut Ryani.
“Kita tunggu saja mereka, tanggung sudah sampai sini”, sambung Ryani lagi.

Waktu pun berlalu dengan cepat. Malampun datang dengan kegelapannya. Syukurlah didesa ini listrik telah masuk, sehingga kegelapan tidaklah merajalela di desa ini. Begitu juga dengan rumah orangtuanya Marto. Beberapa lampu listrik telah dinyalakan biarpun dengan cahaya alakadarnya sehingga tidaklah membuat Ryani berada di wilayah yang asaing baginya.

Tadi sore Marto dengan keramahan ala desa telah mempersilakan Ryani untuk mendiami kamar paling depan. Cukup bersih karena jarang sekali di pergunakan. Dengan mengenakan sehelai kain panjang yang melilit pinggangnya Ryani tengah duduk di ruang tengah, mempelajari dan menelaah kembali data – data yang telah di kumpulkannya selama bersama Marto. Marto dengan sebatang rokok duduk di kursi lainnya pada meja yang sama. Mengepulkan asap rokoknya dengan nikmat, sembari matanya tak lepas dari bagian dada gadis cantik yang tengah menunduk menghadapi kertas-kertasnya.

“Belum mengantuk mba?”, tanyanya kepada Ryani.
“Hmm..belum pak…”, jawab Ryani tak memalingkan wajahnya. Tetap berkonsentrasi pada kertas–kertas yang ada di hadapannya.
“Kalau Pak Marto udah mengantuk. Duluan saja… saya masih membereskan pekerjaan ini menjelang kantuk saya datang.”, sambung Ryani tak menoleh.
“kalau begitu saya duluan saja ya mba”, ujar Marto sembari beranjak meninggalkan kursinya melangkah ke arah kamar satunya dimana dia biasanya berada apabila berada di rumah ini.
“Kalau perlu sesuatu saya berada di sebelah kamar mba kok”, tambah Marto dari dalam kamar.

Terdengar suara gemerisik kaln bergeser, Ini dikarenakan sebagaimana biasanya rumah di desa tidak mengunakan pintu sebagai pembatas kamar, hanya menggunakan sehelai kain yang di lekatkan pada kusen pintu. Dan kain itulah yang menjadi batas wilayah ruang yang satu dengan ruang lainnya.

Tak terasa waktu berjalan, menimbulkan tanda-tanda pada tubuh agar segera menghentikan aktifitas. Meminta waktu untuk memulihkan pada kondisi idealnya. Menuntut agar beristirahat. Begitu juga pada gadis ayu ini. Beberapa kali ia menguap… Perjalanan dan pekerjaannya malam ini telah menyita energinya. Tubuhnya tak dapat berkompromi dengan kepenatan yang amat sangat. Ryani pun membereskan kertas-kertasnya, beranjak melangkah menuju kamar yang diperuntukkan buatnya. Langsung begitu rebah di pembaringan tak ingat apa-apa lagi… tertidur pulas.

Di tengah kepulasannya Ryani merasakan secercah sentuhan pada betisnya, sangat ringan tetapi sangat nyaman. Ia menggeliat sejenak. Sentuhan tersebut tak berhenti… Makain naik pada lututnya, makin nyaman dan sebersit rasa aneh yang sangat nyaman mulai tumbuh di dasar perasaannya. Sentuhan itu benganti dengan elusan. Kedua lutut gadis itu kini mendapatkannya secara bergantian. Menggelitik sisi keperempuanannya yang masih lugu. Ryani mengeluh.

Tapi alam kesadarannya segera bangkit. Otaknya langsung bekerja. Bukankah saat ini ia sedang tak dirumahnya sendiri? Bukankah tadi pagi ia bepergian bersama Pak Marto? Bukankan saat ini ia tengah berada di rumah Pak Marto? Bukankah saat ini ia tidur di rumah Pak Marto… Lalu apakah atau siapakah yang mengelusi kakinya? Jangan–jangan…

Riyani langsung tersentak bangun dan langsung duduk bersandar pada punggung ranjang. Mata indahnya membelalak. Dengan seruan tertahan hampir keluar dari bibirnya.

“Apa–apaan pak Marto?”, serunya tertahan. Terkejut melihat Marto telah berada di kamarnya. Memandangnya dengan seringai tersungging di bibirnya.
“Saya sudah lama memendam ini mba”, ujarnya ringan.
“Mba juga tahu sudah berapa lama saya di penjara, tak sekalipun saya mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan perempuan. Tapi saat ini saya tak dapat menahan diri lagi”, Tambah Marto.
“Mba sangat cantik”, ujarnya memuji.
“Tapi, tapi kenapa harus saya Pak Marto?”, Ryani melontarkan pertanyaan yang tak harus di jawab.
“Lebih baik mba terima saja, sekali mba berteriak saya tidak segan–segan menghabisi mba… Bagi saya penjara adalah rumah kedua.”, ucap Marto dengan nada tegas memandang tajam.

“Oh Tuhan, kenapa nasib saya begini…’, keluh Ryani dalam hati.
“Apa salah saya sehingga harus menghadapi kenyataan seperti ini?”

Marto bergerak naik ke atas pembaringan. Merangkak mendekati gadis ayu yang ketakutan bersedekap memeluk dadanya sendiri. Marto meraih kedua tangan yang tengah bersedekap itu… Melepaskannya hingga turun disisi tubuhnya. Meraih wajah ayu tersebut… Menengadahkannya.

“Tak usah takut mba, Saya takkan menyakiti mba”, ujar Marto.

Perlahan kedua mata Ryani yang terpicing terbuka, memandang dalam sinar takut ke wajah Marto. Perlahan Marto mendekatkan wajahnya… Menjatuhkan kecupan ringan di pelupuk mata Ryani… Di barengi jilatan pada kelopaknya. Kedua tangan Marto melai merengkuh bahu gadis ayu itu. Menariknya mendekat. Tak kuasa menolak Ryani menuruti kehendak Marto.

Marto membaringkan tubuh gadis itu dengan perlahan. Kembali wajahnya mendekat. Kini kecupan dan jilatan lidahnya mampir pada sisi wajah Ryani. Menjilati cupin
<————————————————–>
g telinga yang lancip, menjilati bagian belakangnya dengan lidahnya yang kasap. Turun ke bawah menelusuri urat leher yang tegas menopang kepalanya. Mampir di sepanjang belikatnya. Mata Ryani bekerjap-kerjap. Antara ketakutan dan rasa nikmat yang timbul oleh lidah dan mulutnya Marto. Tak sadar beberapa kali keluhan terbit di bibir mungil gadis ayu tersebut.

Tangan Marto pun tak tinggal diam… Kini telah berada di permukaan daster yang dikenakan Ryani menangkupi bukit padat di dadanya… Ahhh… Ryani mendesah merasakan betapa permukaan telapak tangan itu bergerak di sepanjang bulatan dada kirinya.
Rasa itu langsung menyentuh kulit di bawah dasternya yang tak mengenakan bra. Kini jemari Marto bergerak menyelusuri lereng bukit membusung tersebut menuju puncaknya… Menemukan puncaknya dengan stupa mungil yang mencuat… Memijit-mijitnya dengan perlahan… Lalu memilin-milinya…

Tubuh Ryani menggeliat kegelian. Tak merasa cukup, dengan menggunakan tangannya Marto melucuti kancing daster gadis ayu tersebut. Menyibakkannya ke samping, menampilkan kulit putih mulus. Sangat indah di terangi oleh lampu yang temaram.

“Ahhh…”, keluh Ryani pendek.
Bibir Marto kini telah mencucupi puncak dadanya yang sebelah kiri… Menjilatinya mengelilingi puncaknya… Mengulum dan melingkari puncaknya dengan lidah kasapnya… Bergantian yang kanan dan kiri tak ada yang terlewatkan. Terus turun ke bawah… Menyelusuri cekungan garis perut yang bergerak-gerak gelisah, menemukan cekungan di bawahnya, mencucupi dengan lincah.

Ryani yang belum pernah merasakan hal sejauh ini hanya bisa diam dan menggeliat-geliat gelisah. Satu sisi dirinya merasakan hal ini tidaklah benar tapi sisi lainnya tubuhnya tak dapat menolak.

Saat bibir Marto mampir di sepanjang batas karet pakaiannya yang terakhir, gelinjang tubuhnya makin hebat. Gelitikan lidah Marto semakin menggila di sana. Tak berhenti… Lidah dan bibir Marto menemukan sisi dalam batang paha kiri Ryani, kembali menjilati, menyeluri bagian dalam batang paha tersebut ke bawah… hingga lututnya… berpindah ke bagian sebelahnya… Memberikan perlakuan yang sama di sana… Tak memberikan jeda pada Ryani untuk berfikir jernih, berusaha membangkitkan birahinya yang selama ini terpendam.

Gadis ayu itu pun tak tahu kapan pembalut bagian tubuhnya yang sangat pribadi di lucuti. Yang ia rasakan hanyalah serbuan rasa nikmat yang amat sangat menerpa seluruh penjuru tubuhnya… Tak dapat berfikir kenapa tubuhnya begitu peka terhadap sentuhan Marto… Tak dapat lagi berfikir untuk menyudahi selagi belum terlambat… Tak dapat berfikir lagi… Tubuhnya begitu menikmati, begitu bereaksi, begitu terbakar nafsunya sendiri.
Yang dia tahu Marto telah bergerak menindih tubuh telanjangnya.

“ja… Jangan Pak Marto…”, bisik Ryani terbata-bata.
“Mba lebih baik diam… Saya bisa bertindak brutal apabila mba tidak bekerja sama” , ujar Marto. Ucapan yang halus tetapi cukup tegas. Ryani tak bisa apa apa lagi selain menurutinya. Tak dapat dibayangkannya akibat yang timbul oleh penolakannya.

Air mata menggenang di matanya saat Marto duduk di hadapan pinggulnya. Marto menyibakkan kedua batang paha mulus tersebut ke samping tubuhnya. Merapatkan Pinggulnya pada wilayah pribadi Ryani.

“Uhh..”, lenguh Ryani saat ujung bulat kejantanan Marto menggosok lepitan kewanitaannya. Birahinya yang tadi surut kembali mengalir menuju puncaknya.

Marto menggosok-gosokkan ujung kejantannanya pada lepitan yang masih rapat tersebut. Memberikan kembali rasa nikmat yang lebih dibandingkan aksi sebelummnya. Ryani hanya dapat menggeliat-geliat dengan nafas yang tersengal-sengal. Kepalanya berulangkali terbanting kekiri dan kekanan. Jemari lentiknya mencengkeram kedua lutut Marto. Perlahan tapi pasti cairan hangat timbul pada kewanitaan Ryani, membasahi… dan mempersiapkan diri untuk penetrasi.

Peluh telah bercucuran di tubuh tegap Marto. Begitu juga pada Rayni… Peluh telah membuat sekujur tubuhnya mengkilap, sebagian lagi mengalir dipermukaan kulitnya… Menuruni puncak dadanya dengan bulir-bulir berkejaran… Marto bergerak… Mengangkat kedua belah kaki lenjang gadis ayu tersebut mendekati dadanya. Memposisikan dirinya setengah berjongkok. Berkerjab-kerjab mata Ryani menantikan aksi Marto selanjutnya… Marto mulai mendesak… Mendorongkan pinggulnya… Mendesakkan ujung membola kejantanannya pada lepitan kewanitaan Ryani… Mencoba menembus lepitan yang ketat tersebut.

“Uhh”, Keluh Ryani. Membeliakkan mata indahnya saat ujung membola kejantanan Marto mendesak kuat, menyibakkan lepitan kewanitaannya yang basah. Memberikan jalan untuk pertama kalinya bagi sebuah benda asing. Sedikit perih terbit di sana. Ryani hanya bisa menggigit bibir bawahnya agar jeritan tak keluar dari mulutnya. Hanya kuku jemari lentiknya makin mencengkeram pada kedua lutut Marto.

Marto kembali mendesak… Menuntaskan segala hasratnya, mendorong pinggulnya. Terasakan oleh Marto betapa liang kewanitaan tersebut begitu ketat mencengkeram. Bahkan terasakan berapa deretan cincin-cincin melingkar di sepanjang liang tersebut berderik-derik membuka diri bagi batang hangat tersebut. Perlahan tapi pasti batang pejal tersebut terus maju mili demi mili hingga… Seolah-olah terhambat suatu halangan..

“Inilah saatnya”, batin Marto.

Kembali menghela napas dan mengumpulkan tenaga pada pinggulnya, mendorong kembali dengan tenaga penuh. Terasa sesuatu berdetus, putus. Dalam liang tersebut dan di barengi dengan meluncurnya batang pejal kejantanannya hingga amblas terbenam seutuhnya… Terlihat Ryani tersengal-sengal dengan mata berair… Habislah harapannya untuk mempersembahkan miliknya pada suaminya kelak.
Marto pun diam. Waktu seolah–olah berhenti.

Marto kembali bergerak. Perlahan-lahan menggerakkan pinggulnya memacu birahinya. Sebagai seorang lelaki ia menyadari bahwa dengan kelembutanlah persetubuhan ini akan menjadi sempurna. Tubuh tegapnya bergerak perlahan mencoba menghapuskan rasa perih gadis ayu tersebut dan menggaqntikannya dengan rasa nikmat. Batang pejalnya perlahan tapi pasti bergerak bolak-balik disepanjang liang kewanitaan Ryani. Terkadang diam dan mengedut.

Ryani mendelik merasakan kedutan tersebut memijit setiap tombol birahinya.. Menyirami api nafsunya dengan bahan bakar yang di butuhkannya. Mengelorakan setiap ombak nikmat di sekujur tubuhnya. Rayni merintih, mengelinjang. Marto kembali bergerak, menghujamkan batangnya. Makin lama makin cepat, merebahkan tubuhnya menelungkupi tubuh indah tersebut. Ryani tak sadar merengkuh tubuh tegap tersebut.

Marto mulai bergerak mundur batangnya. Perlahan-lahan. Ryani semakin menggeliat. Marto mendorong maju lagi… Mundur… Maju… Semuanya dengan perlahan-lahan. Kedua tangan Ryani kini tak tinggal diam, ia juga menginginkan rasa ini dapat dinikmati dengan sempurna.
Bibirnya menganga dan sesaat kemudian telah berubah menjadi desah dan rintihan. Tubuhnya menggelinjang-hebat, mengangkang lebih lebar.
Marto mencoba agak mempercepat gerak naik turunnya. Pinggul Ryani mulai bergerak gelisah mengimbangi. Marto mempercepat gerakan lalu mempercepat lagi hingga batas yang memungkinkan. Dia mempertahankan kecepatan itu tanpa mengurangi atau melebihinya. Dia merasakan liang kenikmatan Ryani semakin membasah dan licin, mulutnya tak henti-hentinya mendesah, merintih, mengerang…
Marto mengerahkan seluruh tenaga untuk memompakan terus kenikmatan demi kenikmatan kepadanya. Ryani semakin larut dalam deru birahi. Pinggulnya naik bergerak ke atas menyambut setiap gerak turun tubuh Marto, seolah ingin membantu menghujamkan batang pejal Marto lebih dalam lagi ke dasar liang kewanitaannya.

Keringat telah mengucur di seluruh tubuh Marto jatuh dan bercampur dengan keringat tubuh Ryani. Kedua tubuh mereka bagaikan di hempas gelombang badai. Terbanting-banting diatas ranjang. Wajah Ryani kian memerah. Kedua alisnya semakin mengernyit. Marto merasakan dinding-dinding rongga kenikmatannya semakin lama semakin menghimpit. Otot-otot didalamnya semakin terasa meremas-remas.
Marto melihat kedua matanya sudah setengah terpejam. Mulutnya setengah terbuka dengan lidah mengambang di tengah-tengahnya. Dan Ryani rupanya sudah berada di ambang puncak klimaksnya.

Tak lama kemudian ia mencengkeram sprei sejadi-jadinya. Marto membenamkan batangnya sedalam-dalamnya hingga menyentuh dasa dan membiarkan terdiam menekannya. Dia menanti saat-saat yang paling mengesankan itu… Dan tak lama kemudian dinding-dinding liang kenikmatan Ryani mulai berkontraksi. Semakin lama semakin keras. Dan semakin keras… berkontraksi dengan hebat.
Ryani memekik lirih. Marto menggerakkan pinggul maju mundur perlahan-lahan. Sambil menekan dengan bertenaga Marto mendekap dengan erat bongkahan pantatnya. Kontraksi itu semakin berkelanjutan, seiring dengan gerakan pinggul Marto. Dibarengi oleh pekikan-pekikan lirih Ryani seluruh tubuhnya bergetar hebat.
Entah sudah berapa kali ia memekik. Hingga ia tak sanggup lagi meneriakkan pekik nikmatnya itu. Agaknya kenikmatan itu terlalu memuncak baginya. Tubuhnya terkulai… Lemas!

Marto kembali bergerak, memacu nafsunya yang hampir menjelang. Bergerak maju mundur. Batang pejalnya terus menhujam tak kenal lelah. Menggosok seluruh permukaan dinding liang kewanitaan Ryani dengan tergesa-gesa. Terus bergerak.

Puncak telah semakin dekat. Dengan satu hujaman, mendesakkan batang pejalnya hingga ke dasar liang tersebut dan menggeram. Lecutan-lecutan mengalir di sepanjang tulang belakang tubuhnya, menjalar menuju pinggangnya. Terus mengumpul pada pangkal kejantannnannya, berkejaran di sepanjang pembuluh batang kejantantannya. Memancur keluar dengan kuat, berkali-kali, membasahi seluruh bagian dalam liang kewanitaan Ryani, terkulai dan menggelosoh di samping tubuh indah berkeringat tersebut. Mereka terdiam beberapa detik lamanya…

“Maafkan aku mba…”, ujar Marto beringsut mengambil kembali pakaiannya. Ryani memalingkan wajahnya, terisak-isak. Tak menjawab. Selangkangannya sedikit merasa terganjal. Tubuhnya terasa lengket. Badannya capai dengan pinggang serasa remuk. Ada juga sebersit rasa yang tak dapat diutarakan dengan kata-kata timbul dalam dirinya, tak dapat ia pungkiri kejadian barusan sangat melenakannya.

Semenjak kejadian itu Ryani selalu menjadi sarana pelampiasan nafsu Marto. Ia pun tak dapat menolak, mungkin dikarenakan iapun menikmatinya. Dan Ryani di paksa Marto untuk memutuskan hubungannya dengan pacar. Sampai saat ini ia belum menemukan jalan keluar dari masalahnya ini.

(Baca elengkapnya ...)

Posted @ 2:11 PM| Thursday, April 10, 2008 |  0 comments add to Digg it! add to technorati add to Yahoo MyWeb
Cerita ini terjadi pada tahun 1997. Ini merupakan ceritaku nyata. Pada saat aku masih kuliah di semester 2, ibuku sakit dan dirawat di kota S. Oh, iya aku tinggal di kota L. Cukup jauh sih dari kota S. Karena ibuku sakit, sehingga tidak ada yang masak dan menunggu dagangan. Soalnya adik-adikku semua masih sekolah. Akhirnya aku usul kepada ibuku kalau sepupuku yang ada di kota lain menginap di sini (di rumahku). Dan ide itu pun disetujui. Maka datanglah sepupuku tadi.

Sepupuku (selanjutnya aku panggil Anita) orangnya sih tidak terlalu cantik, tingginya sekitar 160 cm, dadanya masih kecil (tidak nampak montok seperti sekarang). Tetapi dia itu akrab sekali dengan aku. Aku dianggapnya seperti kakak sendiri.

Nah kejadiannya itu waktu aku lagi liburan semester. Waktu liburan itu aku banyak menghabiskan waktu untuk menunggu dagangan ibuku. Otomatis dong aku banyak menghabiskan waktu dengan Anita. Mula-mulanya sih biasa-biasa saja, layaknya hubungan kami sebagai sepupu. Suatu malam, kami (aku, Anita, dan adik-adikku) sudah ingin tidur. Adikku masing-masing tidur di kamarnya masing-masing. Sedang aku yang suka menonton TV, memilih tidur di depan TV. Nah, ketika sedang menonton TV, datang Anita dan nonton bersamaku, rupanya Anita belum tidur juga.

Sambil nonton, kami berdua bercerita mengenai segala hal yang bisa kami ceritakan, tentang diri kami masing-masing dan teman-teman kami. Nah, ketika kami sedang nonton TV, dimana film di TV ada adegan ciuman antara laki-laki dan perempuan (sorry udah lupa tuh judul filmnya).
Eh, Anita itu merespon dan bicara padaku, “Wah temenku sih biasa begituan (ciuman).”
Terus aku jawab, “Eh.. Kok tau..?”
Rupanya teman Anita yang pacaran itu suka cerita ke Anita kalau dia waktu pacaran pernah ciuman bahkan sampai ‘anu’ teman Anita itu sering dimasuki jari pacarnya. Tidak tanggung-tanggung, bahkan sampai dua jarinya masuk.

Setelah kukomentari lebih lanjut, aku menebak bahwa Anita nih ingin juga kali. Terus aku bertanya padanya, “Eh, kamu mau juga nggak..?”
Tanpa kuduga, ternyata dia mau. Wah kebetulan nih.
Dia bahkan bertanya, “Sakit nggak sih..?”
Ya kujawab saja, “Ya nggak tahu lah, wong belum pernah… Gimana.., mau nggak..?”
Anita berkata, “Iya deh, tapi pelan-pelan ya..? Kata temenku kalo jarinya masuk dengan kasar, ‘anunya’ jadi sakit.”
“Iya deh..!”, jawabku.

Kami berdua masih terus menonton film di TV. Waktu itu kami tiduran di lantai. Kudekati dia dan langsung tanganku menuju selangkangannya (to the point bok..!). Kuselusupkan tangan kananku ke dalam CD-nya dan kuelus-elus dengan lembutnya. Anita tidak menolak, bahkan dengan sengaja merebahkan tubuhnya, dan kakinya agak diselonjorkan. Saat merabanya, aku seperti memegang pembalut, dan setelah kutanyakan ternyata memang sejak lima hari lalu dia sedang menstruasi.

Aku tidak mencoba membuka pakaian maupun CD-nya, maklumlah takut kalau ketahuan sama adik-adikku. Dengan CD masih melekat di tubuhnya, kuraba daerah di atas kemaluannya. Kurasakan bulu kemaluannya masih lembut, tapi sudah agak banyak seperti bulu-bulu yang ada di tanganku. Kuraba terus dengan lembut, tapi belum sampai menyentuh ‘anunya’, dan terdengar suara desisan walau tidak keras. Kemudian kurasakan sekarang dia berusaha mengangkat pantatnya agar jari-jariku segera menyentuh kemaluannya. Segera kupenuhi keinginannya itu.

Waktu pertama kusentuh kemaluannya, dia terjengat dan mendesis. Kugosok-gosok bibir kewanitaannya sekitar lima menit, dan akhirnya kumasukkan jari tengahku ke liang senggamanya.
“Auw..,” begitu reaksinya setelah jariku masuk setengahnya dan tangannya memegangi tanganku.
Setelah itu dengan pelan kukeluarkan jariku, “Eeessshhh..”, desisnya.
Lalu kutanya, “Gimana..? Sakit..?”
Dia menggeleng dan tanpa kusadari tangannya kini memegang telapak tangan kananku (yang berada di dalam CD-nya), seakan memberi komando kepadaku untuk meneruskan kerjaku.

Sambil terus kukeluar-masukkan jariku, Anita juga tampak meram serta mendesis-desis keenakan. Sementara terasa di dalam CD-ku, batang kemaluanku juga bangun, tapi aku belum berani untuk meminta Anita memegang rudalku (padahal aku sudah ingin sekali). Sekitar 10 menit peristiwa itu terjadi. Kulihat dia tambah keras desisannya dan kedua kakinya dirapatkan ke kaki kiriku. Sepertinya dia telah mengalami klimaks, dan kami akhirnya tidur di kamar masing-masing.

Hari berikutnya, aku dan Anita siap-siap membuka warung, adikku pada berangkat sekolah, sehingga hanya ada aku dan Anita di warung. Hari itu Anita jadi lebih berani padaku. Di dalam warungku sambil duduk dia berani memegang tanganku dan menuntunnya untuk memegang kemaluannya. Waktu itu dia memakai hem dan rok di atas lutut, hingga aku langsung bisa memegang selangkangannya yang terhalang CD dan pembalut. Kaget juga aku, soalnya ini kan lagi ada di warung.
“Nggak pa-pa Mas.., khan lagi sepi”, katanya dengan enteng seakan mengerti yang kupikirkan.
“Lha kalo ada pembeli gimana nanti..?”, tanyaku.
“Ya udahan dulu, baru setelah pembelinya balik, kita lanjutin lagi, ok..?”, jawabnya.

Dengan terpaksa kuraba-raba selangkangannya. Hal tersebut kulakukan sambil mengawasi di luar warung kalau-kalau nanti ada pembeli datang. Sementara aku mengelus selangkangannya, Anita mencengkeram pahaku sambil bibirnya digigit pelan tanda menikmati balaianku. Peristiwa itu kuakui sangat membuatku terangsang sekali, sehingga celana pendekku langsung terlihat menonjol yang bertanda batang kejantananku ingin berontak.

“Lho Mas, anunya Mas kok ngaceng..?”, katanya.
Ternyata dia melihatku, kujawab, “Iya ini sih tandanya aku masih normal…”
Aku terus melanjuntukan pekerjaanku. Tanpa kusadari dia pun mengelus-elus celanaku, tepat di bagian batang kemaluanku. Kadang dia juga menggenggam kemaluanku sehingga aku juga merasa keenakan. Baru mau kumasukkan tanganku ke CD-nya, tiba-tiba aku melihat di kejauhan ada anak yang sepertinya mau membeli sesuatu di warungku.
Kubisiki dia, “Heh ada orang tuh..! Stop dulu ya..?”

Aku menghentikan elusanku, dia berdiri dan berjalan ke depan warung. Benar saja, untung kami segera menghentikan kegiatan kami, kalo tidak, wah bisa berabe nanti. Sehabis melayani anak itu, dia balik lagi duduk di sebelahku dan kami memulai lagi kegiatan kami yang terhenti. Seharian kami melakukannya, tapi aku tidak membuka CD-nya, karena terlalu beresiko. Jadi kami seharian hanya saling mengelus di bagian luar saja.

Malam harinya kami melakukan lagi. Aku sendirian nonton TV, sementara adikku semua sudah tidur. Tiba-tiba dia mendatangiku dan ikut tiduran di lantai, di dekatku sambil nonton TV. Kemudian tiba-tiba dia memegang tanganku dan dituntun ke selangkangannya. Aku yang langsung diperlakukan demikian merasa mengerti dan langsung aku masuk ke dalam CD-nya, dan langsung memasukkan jariku ke kemaluannya. Sedangkan dia juga langsung memegang batang kejantananku.

“Aku copot ya CD kamu, biar lebih enakan”, kataku.
Dia mengangguk dan aku langsung mencopot CD-nya. Saat itu dia memakai rok mininya yang tadi, sehingga dengan mudah aku mencopotnya dan langsung tanganku mengorek-ngorek lembah kewanitaannya dengan jari telunjukku. Aku juga menyuruh mengeluarkan batang kejantananku dari CD-ku, sehingga dia kini bisa melihat rudalku dengan jelas, dan dia kusuruh untuk menggenggamnya. Kukorek-korek kemaluannya, kukeluar-masukkan jariku, tampaknya dia sangat menikmatinya. Kulihat batang kemaluanku hanya digenggamnya saja, maka kusuruh dia untuk mengocoknya pelan-pelan, namun karena dia tidak melumasi dulu batangku, maka kemaluanku jadi agak sakit, tapi enak juga sih.

“Eehhhsssttt… Eehhhsssttt… Ouw.., eehhhsssttt… Eehhhsssttt… Eehhhssstt..”
Begitu erangannya saat kukeluar-masukkan jariku.
Kumasukkan jariku lebih dalam lagi ke liang kewanitaannya dan dia mendesis lebih keras, aku suruh dia agar jangan keras-keras, takut nanti adikku terbangun.
“Kocokkannya lebih pelan dong..!”, kataku yang merasa kocokkannya terhenti.
Kupercepat gerakan jariku di dalam liangnya, kurasakan dia mengimbanginya dengan menggerakkan pantatnya ke depan dan ke belakang, seakan dia lagi menggauli jariku.
Dan akhirnya, “Oh.., oohhh.. Oohhh.. Ohhh..” Rupanya dia mencapai klimaksnya yang pertama, sambil kakinya mengapit dengan keras kaki kananku.

Kucabut jariku dari kemaluannya, kulihat masih ada noda merah di jariku. Karena aku belum puas, aku langsung pergi ke kamar mandi dan kutuntun Anita. Di kamar mandi aku minta dia untuk mengocok batang kejantananku dengan tangannya. Dia mau. Aku lepaskan celanaku, setelah itu CD-ku dan batang kejantananku langsung berdiri tegap. Kusuruh dia mengambil sabun dan melumuri tangannya dengan sabun itu, lalu kusuruh untuk segera mengocoknya. Karena belum terbiasa, sering tangannya keluar dari batangku, terus kusuruh agar tangannya waktu mengocok itu jangan sampai lepas dari batangku. Setelah lima menit, akhirnya aku klimaks juga, dan kusuruh menghentikan kocokannya.

Seperti pagi hari sebelumnya, kami mengulangi perbuatan itu lagi. Tidak ada yang dapat kuceritakan kejadian pagi itu karena hampir sama dengan yang terjadi di pagi hari sebelumnya. Tapi pada malam harinya, seperti biasa, aku sendirian nonton TV. Anita datang, sambil tiduran dia nonton TV. Tapi aku yakin tujuannya bukan untuk nonton, dia sepertia ketagihan dengan perlakuanku padanya. Dia langsung menuntun tanganku ke selangkangannya. Aku bisa menyentuh kewanitaannya, tapi ada yang lain. Kini dia tidak memakai pembalut lagi.
“Eh, kamu udah selesai mens-nya..?”, tanyaku.
“Iya, tadi sore khan aku udah kramas, masa nggak tau..?”, katanya.

Aku memang tidak tahu. Karena memang aku kurang peduli dengan hal-hal seperti itu. Aku jadi membayangkan yang jorok, wah batang kejantananku bisa masuk nich. Kuraba-raba CD-nya. Tepat di lubang kemaluannya, aku agak menusukkan jariku, dan dia tampak mendesis perlahan. Tangannya kini sudah membuka restleting celana pendekku, selanjutnya membukanya, dan CD-ku juga dilepaskankan ke bawah sebatas lutut. Digenggamnya batang kejantananku tanpa sungkan lagi (karena sudah sering kali ya..?). Aku juga membuka CD-nya, tapi karena dia masih memakai rok mini lagi, jadi tidak ketahuan kalau dia sekarang bugil di bagian bawahnya. Dia kini dalam keadaan mengangkang dengan kaki agak ditekuk. Kuraba bibir kemaluannya dan dengan agak keras, kumasukkan seluruh jari telunjukku ke lubang senggamanya.

“Uhhh.. Essshhh.. Eessshhh.. Essshhh..”, begitu desisnya waktu kukeluar-masukkan jariku ke lubang senggamanya.
Sementara dia kini juga berusaha mengocok batang keperkasaanku, tapi terasa masih sakit. Kukorek-korek lubang kemaluannya. Lalu timbul keinginanku untuk melihat kemaluannya dari dekat. Maklumlah, aku khan belum melihat langsung bentuk kemaluan wanita dari dekat. Paling-paling dari film xxx yang pernah kutonton. Kuubah posisiku, kakiku kini kuletakkan di samping kepala Anita, sedangkan kepalaku berada di depan kemaluannya, sehingga aku dengan leluasa dapat melihat liang kewanitaannya. Dengan kedua tanganku, aku berusaha membuka bibir kemaluannya.

Tapi, “Auw.. Diapaain Mas..? Eshhh.. Uuhhh.”, desisannya tambah mengeras.
“Sorry.., sakit ya..? Aku mo lihat bentuk anumu nih, wah bagus juga yach..!”, sambil terus kukocokkan jariku.
Kulihat daging di lubangnya itu berwarna merah muda dan terlihat bergerak-gerak.
“Wah, jariku aja susah kalo masuk kesini, apalagi anuku yang kamu genggam itu ya..?”, pancingku.
Dia diam saja tidak merespon, mungkin lagi menikmati kocokan jariku karena kulihat dia memaju-mundurkan pantatnya.
“Eh, sebenarnya yang enak ini mananya sich..?”, tanyaku.
Tangan kirinya menunjuk sepotong daging kecil di atas lubang kemaluannya.

“Ini nich.., kalo Mas kocokkan jarinya pas menyentuh ini rasanya kok gatel-gatel tapi enak gitu.”
“Mana.., mana.., oh ini ya..?”, kugosok daging itu (yang kemudian kuketahui bernama klitoris) dan dia makin kuat menggenggam batang kemaluanku.
“Ahhh. Auu.. Enakkkk Maaasss… Eeehhh… Aaahhh.. Truusss Masss, terusiinn.. Ohhh..!”
Tangannya setengah tenaga ingin menahan tanganku, tapi setengahnya lagi ingin membiarkan aku terus menggosok benda itu.
Dan akhirnya, “Uhh.. Uhhh.. Uuhhh.. Ahhh.. Aahhh.”, dia mencapai klimaks.

Aku terus menggosoknya, dan tubuhnya terus menggelinjang seperti cacing kepanasan.
Lalu kubertanya, “Eh, gimana kalo anuku coba masuk ke sini…? Boleh nggak..? Pasti lebih enakan..!”
Dia hanya mengangguk pelan dan aku segera merubah posisiku menjadi tidur miring sejajar dengan dia. Kugerakkan batang kejantananku menuju ke lubang kemaluannya. Kucoba memasukkan, tapi rasanya tidak bisa masuk. Kurubah posisiku sehingga dia kini berada di bawahku. Kucoba masukkan lagi batangku ke lubangnya. Terasa kepala anuku saja yang masuk, dia sudah mendesis-desis.

Kudorong lebih dalam lagi, tangannya berusaha menghentikan gerakanku dengan memegang batangku. Namun rasanya nafsu lebih mendominasi daripada nalarku, sehingga aku tidak mempedulikan erangannya lagi.
Kutekan lagi dan, “Auuuwww.. Ehhssaaakkkiittt..!”
Aku berhasil memasukkan batang anuku walau tidak seluruhnya. Aku diam sejenak dan bernapas. Terasa anunya memeras batangku dengan keras.
“Gimana, sakit ya.., mo diterusin nggak..?”, tanyaku padanya sambil tanganku memegang pantatnya.
Dia tidak menjawab, hanya terdengar desah nafasnya. Kugerakkan lagi untuk masuk lebih dalam. Mulutnya membuka lebar seperti orang menjerit, tapi tanpa suara.

Karena dia tetap diam, maka kulanjuntukan dengan mengeluarkan batangku. Dan lagi-lagi dia seperti menjerit tapi tanpa suara. Saat kukeluarkan, kulihat ada noda darah di batangku. Aku jadi kaget, “Wah aku memperawaninya nih.”
“Gimana.., sakit nggak.., kalo nggak lanjut ya..?”, tanyaku.
“Uhhh.. Tadi sakiiittt sich… Uhhh. Geeelii.” Begitu katanya waktu anuku kugesek-gesekkan.

Setelah itu kumajukan lagi batang kejantananku, Anita tampak menutup matanya sambil berusaha menikmatinya. Baru kali ini batangku masuk ke liangnya wanita, wah rasanya sungguh nikmat. Aku belum mengerti, kenapa kok di film-film yang kulihat, batang kejantanan si pria begitu mudahnya keluar masuk ke liang senggama wanita, tapi aku disini kok sulit sekali untuk menggerakkan batang kejantananku di liang keperawanannya. Namun setelah beberapa menit hal itu berlangsung, sepertinya anuku sudah lancar keluar masuk di anunya, maka agak kupercepat gerakan maju-mundurku di liangnya. Kurubah posisiku hingga kini dia berada di bawahku. Sambil masih kugerakkan batangku, tanganku berusaha mencapai buah dadanya. Kuremas-remas buah dadanya yang masih kecil itu bergantian, lalu kukecup puting buah dadanya dengan muluntuku.

Dia semakin bergelinjang sambil mendesis agak keras. Akhirnya setelah berjalan kurang lebih 10 menitan, kaki Anita berada di pantatku dan menekan dengan keras pantatku. Kurasa dia sudah orangasme, karena cengkeraman bibir kemaluannya terhadap anuku bertambah kuat juga. Dan karena aku tidak tahan dengan cengkeraman bibir kemaluannya, akhirnya, “Crot.. Crot.. Crot..”, air maniku tumpah di vaginanya. Serasa aku puas dan juga letih. Kami berdua bersimbah keringat. Lalu segera kutuntun dia menuju kamar mandi dan kusuruh dia untuk membersihkan liang kewanitaannya, sedangkan aku mencuci senjataku. Setelah itu kami kembali ke tempat semula.

Kulihat tidak ada noda darah di karpet tempat kami melakukan kejadian itu. Dan untung adik-adikku tidak bangun, sebab menuruntuku desisan dan suara dia agak keras. Lalu kumatikan TV-nya, dan kami berdua tidur di kamar masing-masing.
Sebelum tidur aku sempat berfikir, “Wah, aku telah memperawani sepupuku sendiri nich..!”

Sewaktu aku sudah kuliah lagi (dua hari setelah kejadian itu), dia masih suka menelponku dan bercerita bahwa kejadian malam itu sangat diingatnya dan dia ingin mengulanginya lagi. Aku jadi berpikir, wah gawat kalo gini. Aku jadi ingat bahwa waktu itu aku keluarkan maniku di dalam liang keperawanannya.
“Wah, bisa hamil nich anak..!”, pikirku.
Hari-hariku jadi tidak tenang, karena kalau ketahuan dia hamil dan yang menghamili itu aku, bisa mampus aku. Setelah sebulan lewat, kutelpon dia di rumahnya. Setelah kutanya, ternyata dia dapat mens-nya lagi dua hari yang lalu. Lega aku dan sekarang hari-hariku jadi balik ke semula.

Begitulah ceritaku saat menggauli sepupu sendiri, tapi dasar memang sepupuku yang agak “horny”. Tapi sampai saat ini kami tidak pernah melakukan perbuatan itu lagi.

(Baca elengkapnya ...)

 

Recent Babe


Advertising


eXTReMe Tracker